BAHASA BAKU
Nama Kelompok 8 :
·
Desma Eka Pratiwi (1584202115)
·
Neneng Komalasari (1584202128)
·
Putri Anisa Wardani (1584202120)
PRODI PENDIDIKAN
MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH TANGERANG
2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur
kami panjatkan kehadirat Allah S.W.T. atas karunia-Nya sehingga makalah
tentang “Bahasa Baku” ini dapat kami
selesaikan. Tidak lupa kami sampaikan terima kasih kepada kedua orang tua kami,
dosen kami Bapak Haerudin, M.Pd dan teman – teman yang telah memberikan
dukungan serta saran demi terwujudnya makalah ini.
Makalah Bahasa
Indonesia ini berisi tentang “Bahasa Baku”. Kami harap, makalah yang kami susun
ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua terutama menambah pengetahuan
tentang hal yang diulas di dalamnya. Makalah kami masih jauh dari sempurna.
Saran dan kritik yang membangun akan sangat membantu kami dalam memperbaiki
makalah selanjutnya. Selamat Membaca!
Tangerang, 14
Desember 2015
Penyusun
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Bahasa
Indonesia adalah alat komunikasi verbal antar suku – suku bangsa di Indonesia,
yang tidak mungkin dapat dilakukan oleh salah satu bahasa daerah lainnya. Lalu,
sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia adalah satu – satunya bahasa yang harus
digunakan dalam komunikasi resmi kenegaraan, seperti dalam rapat – rapat dinas,
surat – menyurat dinas, dan sebagainya.
Bahasa
Indonesia baku adalah ragam bahasa Indonesia yang digunakan dalam situasi
formal atau resmi. Secara tertulis, misalnya, dalam surat-menyurat dinas,
lamaran pekerjaan, karangan ilmiah, buku pelajaran, undang – undang, peraturan
– peraturan, dan sebagainya. Secara lisan, misalnya, sebagai bahasa pengantar
dalam pendidikan, rapat – rapat dinas, pidato kenegaraan, khotbah, penerangan
dan sebagainya. Di luar keperluan itu, kita boleh saja menggunakan bahasa
nonbaku.
B. Perumusan
Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan bahasa baku ?
2. Dimana kita dapat menggunakan bahasa
Indonesia baku ?
C. Tujuan
Penullisan
1. Untuk
mengetahui mengenai pengertian dari bahasa baku.
2. Untuk
mengetahui dimana kita dapat menggunakan bahasa Indonesia baku.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
BAHASA BAKU
Sejarah umum perkembangan bahasa
menunjukkan bahwa ragam itu memperoleh gengsi dan wibawa yang tinggi karena
ragam itu juga yang dipakai oleh kaum yang berpendidikan dan kemudian dapat
menjadi pemuka di berbagai bidang kehidupan yang penting. Pemuka masyarakat
yang berpendidikan umumnya terlatih dalam ragam sekolah itu. Ragam itulah yang
dijadikan tolak banding bagi pemakaian bahasa yang benar.
Proses tersebut terjadi di dalam
banyak masyarakat bahasa yang terkemuka seperti Perancis, Inggris, Jerman,
Belanda, Spanyol, dan Italia. Di Indonesia keadaannya agak berlainan: pejabat
tinggi, pemuka, dan tokoh masyarakat kita dewasa ini berusia antara 50 dan 70
tahun dan tidak semuanya memperoleh kesempatan memahiri ragam bahasa sekolah
dengan secukupnya. Ragam bahasa yang diajarkan dan dikembangkan di dalam
lingkungan itulah yang akan menjadi ragam bahasa calon pemimpin kita sehingga
pada suatu saat bahasa Indonesia yang baku memang dapat disamakan dengan ragam
bahasa golongan pemuka yang memancarkan gengsi dan wibawa kemasyarakatan.
Ragam bahasa standar memiliki sifat kemantapan dinamis, yang berupa kaidah
dan aturan yang tetap. Ciri kedua yang menandai bahasa baku ialah sifat kecendekiaan-nya. Proses pemcendekiaan
bahasa itu amat penting karena pengenalan ilmu dan teknologi modern, yang kini
umumnya masih bersumber pada bahasa asing, harus dapat dilangsungkan lewat buku
bahasa Indonesia. Akan tetapi, karena proses bernalar secara cendekia bersifat
semesta dan bukan monopoli suatu bangsa semata – mata, pencendekiaan bahasa
Indonesia tidak perlu diartikan sebagai pemberatan negara. Ciri ketiga yang
menandai bahasa baku ialah Proses pembakuan sampai taraf tertentu berarti proses
penyeragaman kaidah, bukan penyamaan
ragam bahasa, atau penyeragaman variasi bahasa.
B.
FUNGSI BAHASA BAKU
Bahasa baku mendukung tiga fungsi
yang bersifat pelambang (simbolis), yaitu :
1. Fungsi
pemersatu.
2. Fungsi
pemberi kekhasan.
3. Fungsi
pembawa kewibawaan;
Dan satu
fungsi yang bersifat objektif, yaitu fungsi sebagai kerangka acuan. Bahasa baku
bisa memersatukan segala penutur dari bermacam – macam dialek. Dengan bahasa
baku ini, bahasa Indonesia memiliki kekhasan yang membedakannya dari bahasa lain.
Karena fungsi inilah, perasaan kepribadian nasional diperkuat. Dan, orang pun
menganggap bahwa bahasa Indonesia sudah berbeda sama sekali dengan bahasa
Melayu di Malaysia, Singapura, Brunei, bahkan berbeda dengan bahasa Melayu Riau
yang menjadi induknya. Fungsi pembawa kewibawaan menuntut orang agar berbahasa
dengan baik dan benar. Sekarang dapat disaksikan adanya penghormatan kepada
pemakai yang baik dan benar. Sebagai kerangka acuan, norma dan kaidah, ragam
bahasa baku mejadi tolak ukur benar tidaknya pemakaian bahasa. Di samping itu,
bahasa baku juga menjadi kerangka acuan bagi fungsi estetika bahasa yang tidak
saja terbatas pada bidang susastra, tetapi juga mencakup pemakaiannya dalam
bidang permainan kata, iklan, dan tajuk berita. Patutlah diketahui, fungsi ini
belum berjalan dengan baik.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bahasa
baku atau bahasa standar adalah ragam bahsa yang diterima untuk dipakai dalam
situasi resmi, seperti dalam perundang – undangan, surat – menyurat, dan rapat
resmi. Bahasa baku dipakai oleh kaum yang berpendidikan dan kemudian dapat
menjadi pemuka di berbagai bidang kehidupan yang penting.
B. Saran
1. Banyak
mengunjungi seminar – seminar tentang bahasa Indonesia dan yang paling penting
bahasa Indonesia baku.
2. Banyak
membaca buku – buku bahasa baku.
3. Belajar
berbicara atau berkomunikasi dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
DAFTAR
PUSTAKA
Alwi, Hasan. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi III.
Jakarta: Balai Pustaka.
Arifin, Zaenal. 2010. Cermat Berbahasa Indonesia Untuk Perguruan
Tinggi. Jakarta: Akademika
Pressindo.
Chaer, Abdul. 2002. Pembakuan Bahasa Indonesia. Jakarta:
Rineka Cipta.
Chaer, Abdul. 2012. Seputar Tatabahasa Baku Bahasa Indonesia.
Jakarta: Rineka Cipta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar